Abdurrahmanbin Auf, Sahabat Nabi, Yang Selalu Gagal Jatuh Miskin.
ABDURRAHMAN bin Auf termasuk salah seorang yang ikut berhijrah ke Habasyah dengan tujuan menyelamatkan agamanya dan mencari keadilan di wilayah kekuasaan Raja Najasyi. Namun, karena hati Abdurrahman tidak mampu menahan rasa rindu kepada Rasulullah SAW ketika berada jauh dari Beliau, maka ia segera kembali ke Mekah. Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat yang termasuk ke dalam 10 orang yang dijamin masuk surga. Abdurrahman selalu ingin dekat dengan Rasulullah ﷺ. Saat umat muslim berhijrah ke Madinah, Abdurrahman ikut bersama rombongan kaum muslimin. Di sana, Rasulullah ﷺ sengaja mempersaudarakan kaum Anshar dari Madinah dan kaum Muhajirin dari Mekah. Setiap orang akan dipersaudarakan dengan satu orang lainnya. Kala itu, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Salad bin Ar-Rabi, salah seorang sahabat Anshar yang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. BACA JUGA Abdurrahman bin Auf Selalu Gagal Jadi Orang Miskin Kaum Anshar dikenal sebagai orang-orang yang pemurah dan mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri. Begitu dipersaudarakan, Sa’ad bin Ar-Rabi langsung membawa Abdurrahman untuk datang ke rumahnya. Foto Pinterest Sa’ad bin Ar-Rabi datang dengan membawa hartanya, lalu ia meletakkannya di hadapan Abdurrahman bin Auf. Sa’ad berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Ini adalah hartaku yang aku bagi menjadi dua, maka pilihlah separuh yang dapat kamu ambil untuk dirimu.” Selain itu, Sa’ad juga menawarkan sebagian rumahnya untuk Abdurrahman bin Auf. “Ini adalah rumahku yang terdiri dari dua tingkat. Pilihlah tingkat yang kamu sukai, dan tinggallah di sana,” kata Salad. Melihat apa yang ditawarkan saudara barunya itu, Abdurrahman bin Auf hanya tersenyum sambil berkata. “Wahai saudaraku, semoga Allah memberikan keberkahan dalam hartamu, keluargamu, dan rumahmu. Sebaiknya tunjukkan saja kepadaku jalan menuju pasar.” Setelah ditunjukkan letak pasar terdekat, Abdurrahman bin Auf pun keluar dengan membawa kayu bakar di pundaknya untuk dijual. Sejak hari itu, ia menjalankan hidupnya dengan penuh kerja keras dan perjuangan. Bersamaan dengan itu pula, dimulailah kehidupan yang penuh dengan keimanan di Madinah. Suatu hari, Rasulullah ﷺ mendapat kabar bahwa Abdurrahman bin Auf akan menikah. Saat itu pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah, karena membutuhkan banyak biaya untuk membayar mahar kepada calon istri. Rasulullah ﷺ pun datang untuk mengucapkan selamat kepada Abdurrahman bin Auf. Beliau berkata kepadanya, “Apakah benar engkau akan menikah, wahai Abdurrahman bin Auf?” Abdurrahman menjawab, “Benar, wahai Rasulullah. Aku akan menikah.” BACA JUGA Yang Ditinggalkan oleh Abdurrahman bin Auf untuk Keluarganya Foto Pinterest Rasulullah ﷺ berkata lagi, “Apa yang kamu gunakan untuk membayar mahar kepada istrimu?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Emas seberat biji kurma. wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdurrahman. “Sembelihlah walau hanya satu ekor kambing untuk saudara-saudara muslimmu. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam hartamu.” Abdurrahman bin Auf menuruti perintah Rasul. la menyembelih kambing saat pernikahannya, dan doa Rasulullah ﷺ dikabulkan oleh Allah. Allah telah memberikan keberkahan dalam harta Abdurrahman bin Auf , sehingga ia menjadi salah satu orang terkaya di Madinah. [] Sumber 65 Cerita Teladan/ Penulis Sakha Aqila Mustofa/ Penerbit PT. Wahyu Media/ 2008
1 Tetap mendapatka n warisan. Sebab meninggaln ya sang Ayah diakibatka n amalan adalah hal yang tidak bisa diketahui hakikatnya.Tidak tahu kepastian kebenarann ya. Dengan demikian tidak masuk dalam kriteria sebab langsung (hushul), sebab tidak langsung (itsar), maupun faktor pemicu (hushul bi ghairihi) yang merupakan ragam tindakan pembunuhan yang meniadakan hak waris.Anal isa ini mengambil I
- Salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad adalah Abdurrahman bin Auf. Di antara para sahabat beliau SAW, Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang paling kaya dan bergelimang harta. Saking banyaknya kekayaan yang ia miliki, Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa perhitungan hartanya di akhirat akan demikian panjang. Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan cara merangkak. Mendengar penuturan itu, Abdurrahman bin Auf menangis. Karena itulah, ia kerap berdoa "Jadikan aku ini miskin! Aku ingin seperti Mush'ab bin Umair atau Hamzah [yang meninggal dalam keadaan miskin], Ya Allah," rintih Abdurrahman bin Auf. Kendati demikian, harta yang sudah ia tanamkan untuk investasi terus berkembang. Ia tak juga miskin-miskin. Ummul Mukminin Aisyah pernah bercerita bahwasanya Abdurrahman bin Auf kerap membawa pulang dagangannya sebanyak 700 kontainer barang yang panjangnya serupa barisan pawai tak putus-putus. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdul Harits bin Zahrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay. Ia lahir 10 tahun selepas Tahun Gajah. Ketika Muhammad SAW menyatakan bahwa ia diutus menjadi nabi dan rasul yang terakhir di muka bumi ini, Abdurrahman bin Auf termasuk golongan pertama menyambut hidayah tersebut. Ia adalah salah seorang yang mula-mula masuk Islam atau Assabiqun Al-Awwalun. Abdurrahman bin Auf masuk Islam dua hari selepas Abu Bakar As-Siddiq. Jasa Abdurrahman bin Auf sangat besar dalam membiayai dakwah Islam. Seluruh hartanya ia bagi dalam tiga bagian, sepertiga untuk investasi modal usaha orang lain, sepertiga untuk melunasi hutang-hutangnya, dan sepertiga lagi untuk disedekahkan pada fakir miskin dan dakwah Islam. Ia hanya menyisakan harta seperlunya untuk dirinya sendiri. Seluruh harta Abdurrahman bin Auf lahir dari kepadaiannya berwirausaha. Penduduk Makkah dan Madinah kala itu mengakui kecerdikannya dalam berdagang. Saking mahirnya berwirausaha, ia bahkan pernah berseloroh "Seandainya aku mengangkat batu, niscaya kutemukan emas dan perak di bawahnya.” Keistimewaan Abdurrahman bin Auf dibandingkan orang-orang di masanya adalah ia memiliki dua karakteristik sekaligus, yaitu hartawan dan semangat pejuang. Biasanya, orang yang pandai berdagang, kurang memiliki semangat pejuang, sementara itu pejuang lazimnya miskin harta, sebagaimana dikutip dari Abdurrahman bin Auf Biografi dan Perjuangan dalam Membela Islam 2018 yang ditulis oleh Haslinah. Suatu waktu, ia pernah diutus Nabi Muhammad SAW memimpin sebanyak 700 pasukan menuju Dumatul Jandal untuk berperang. Selain itu, Abdurrahman bin Auf dianggap sebagai pelopor dua hijrah dalam Islam, yaitu hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah. Selepas Rasulullah SAW meninggal, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan istri-istri mendiang Nabi Muhammad SAW. Ia menjaga keselamatan dan memenuhi segala kebutuhan mereka. Dari ciri fisiknya, Abdurrahman bin Auf berkulit putih, berbadan tegap, tidak beruban, berhidung mancung, serta berambut lebat dan panjang hingga menutupi telinga. Karena tampan dan kaya, sepanjang hidupnya, Abdurrahman bin Auf memiliki 13 istri, terdiri dari Ummu Hurayth, Ghazal binti Kisra, Sahla binti Assim, Bahriyah bint Hani, Ummu Kultsum binti Uqbah, Ummu Hakim binti Qaridh, Badinah binti Ghaylan, Zainab binti Ghaylan, Asma binti Salamah, Majd binti Yazid, Ummu Kultsum binti Utbah bin Rabiah, Tamadur binti Asbagh, dan Abil binti Khashkhash. Kendati beristri banyak, namun dalam sekali waktu, Abdurrahman bin Auf tak pernah beristri lebih dari empat. Artinya, ketika salah satu istrinya meninggal, barulah ia beristri lagi. Abdurrahman bin Auf meninggal dunia pada 31 H atau 652 Masehi pada usia 72 tahun. Ia dimakamkan di Baqi di samping makam sahabatnya, Utsman bin Maz'un. Sebelum ia meninggal, ia berwasiat agar hartanya disumbangkan untuk kepentingan umat Islam. Menurut suatu riwayat, ia menyedekahkan sekitar 50 ribu dinar untuk dakwah juga 10 Daftar Nama-Nama Sahabat Nabi Muhammad yang Dijamin Masuk Surga Kisah Teladan Sahabat Nabi Zubair bin Awwam Sepupu Rasulullah SAW - Pendidikan Kontributor Abdul HadiPenulis Abdul HadiEditor Dhita Koesno
Abdurrahmanselalu berdiri terdepan menyumbangkan harta. Sunday, 20 Jumadil Akhir 1443 / 23 January 2022
Abdurrmiman bin Auf adalah salah seorang sahabat Nabi yang populer dalam sejarah Islam. Selain dikenal kaya raya, ia juga dermawan. Padahal waktu mula-mula hijrah ke Madinah dari Makkah, dia tidak mempunyai apa-apa. Siapa yang tidak terharu melihat Abdurrahman saat hijrah ke Madinah tahun 622 M. Dia datang tanpa bekal sedikit pun. Kekayaan yang dimilikinya, hanyalah pakaian yang melekat ditubuhnya. Oleh sebab itu Rasulullah segera mempersaudarakan Abdurrahman dengan Sa’ad bin Rabi, seorang hartawan di Madinah. Teryata Saad bin Rabi seorang hartawan yang sangat luhur budinya. Bahkan dia bersedia memberikan modal yang besar kepada Abdurrahman bin Auf. Bahkan, ia menawarkan perempuan di antara keluarganya untuk dijadikan istri. ”Terima kasih atas kebaikan Saudara. Semoga Allah membekati harta dan keluargamu,” jawab Abdurrahman sambil menjabat tangan teman tangannya. Lalu katanya lagi, ”Sekarang begini saja, tujukkanlah padaku, di mana letak pasar, biar aku berusaha sendiri!” begitu kira-kira jawaban Abdurahman atas tawaran itu. Tetapi jangan dikira bahwa dia cuma sibuk cari uang saja. Di samping giat berdagang, Abdurrahman juga sibuk mengajar. Bahkan di medan perang pun tergolong perwira yang berani. Oleh sebab itu dia termasuk kelonpok al-asymh, yaitu ”sepuluh orang termasyhur”. Di bidang pemerintahan, termasuk kelompok yang paling sering diajak berunding bersama-sama Rasulullah. Hasil usahanya di pasar, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat Nabi yang kaya raya. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ia tidak pelit. Abdurtahman bin Auf menyumbangkan separuh dari kekayaannya. Nah, berapa jumlah sumbangannya? Uang dinar, 500 ekor kuda dan 500 ekor unta, dan ”uang saku” sebanyak 400 dinar untuk tiap prajurit. Bukan main!Itulah Abdurrahman bin Auf, seorang hartawan yang memulai usahanya dengan modal nol. Dia lahir tahun 581 M dan wafat tahun 652 M tepatnya tahun 30 H dalam usia 72 tahun. Abdullah Alawi
Abdurrahmanbin Auf adalah Sahabat Rasulullah SAW yang jago berdagang.
Siapakah Abdul Rahman Bin Auf? Artikel ini akan membincangkan biodata salah seorang sahabat yang dijanjikan masuk ke dalam syurga. Siapakah Abdul Rahman Bin Auf? Beliau termasuk diantara 10 sahabat yang dijamin masuk Syurga oleh adalah orang yang ke-8 terawal memeluk agama IslamKehebatan beliau dalam ilmu perdagangan membuatkan beliau menjadi seorangsahabat yang mempunyai harta yang melimpah. Nama Dan Salasilah Keluarga Abdul Rahman Bin Auf Nama beliau adalah Abdul Rahman bin Auf bin Abdi Auf dan ibunya bernama Syafabinti Auf bin Abd bin Harits. Sebelum Abdul Rahman memeluk agama Islam, nama beliau adalah Abdu Amr atauAbdul Ka’bah lalu setelah beliau menjadi seorang muslim Rasulullah SAW lah yangmengubah nama beliau menjadi nama Abdul Rahman. Beliau berasal dari keturunan bangsa arab Quraisy yang sama seperti RasulullahSAW akan tetapi beliau tidak dilahirkan dalam keluarga yang beriman kepada Allah SWT. Kelahiran Abdul Rahman bin Auf Banyak ahli sejarah yang mengatakan bahwa Abdul Rahman bin Auf lahir pada tahunke-10 selepas tahun gajah atau bertepatan pada tahun 580 M. Abdul Rahman bin Auf adalah seorang pemuda Quraisy yang hidup di tengah-tengah masyarakatjahiliah yang menyembah berhala dan berbagai macam kemaksiatan yang dikerjakan olehmereka. Walaupun hidup ditengah masyarakat yang jahil, beliau tetap terhindar danterselamat dari dipengaruhi oleh kesesatan yang berleluasa pada saat itu. Beliau jugaberpendapat bahawa arak adalah sesuatu minuman yang terlarang lalu menghindarinya. Masuknya Abdul Rahman bin Auf Ke Dalam Agama Islam Abdul Rahman bin Auf memeluk agama Islam sebelum Rasulullah SAW mula untukberdakwah dan menyebarkan ajaran Islam di Darul Arqam atau rumahnya Arqam bin Abi AlArqam. Beliau memeluk Islam hari kedua setelah Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq memelukagama Islam. Masuknya Abdul Rahman ke dalam agama Islam membuatkan dirinya menerima banyaksekali dugaan dan ujian dari Allah SWT Yang Maha Penyayang sepertimana juga yang terjadi padaRasulullah SAW dan para sahabatnya yang lain. Beliau mendapat hinaan dan caci makidari masyarakat bahkan dari keluarganya sendiri. Namun kesabaranlah yang menjadiperisai untuk semua kejahatan tersebut. Disebabkan beratnya ujian yang menimpa, Abdul Rahman bersama beberapasahabat yang lain pun terpaksa untuk pergi menyelamatkan diri dari kota Mekah dan berhijrah keHabasyah demi menyelamatkan keimanan mereka. Dipersaudarakan Dengan Saad Bin Rabiq Pada suatu ketika di kota Madinah, Rasulullah SAW sedang mempersaudarakanantara kaum Muhajirin dan Anshar. Pada saat itu Abdul Rahman bin Auf telahdipersaudarakan oleh Rasulullah SAW dengan kaum Anshar yang bernama Saad bin Rabiq. Kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah tanpa membawa sedikit pun harta mereka danbeberapa dari mereka juga terpaksa meninggalkan keluarga masing-masing. Oleh sebab itu, RasulullahSAW berharap mereka dari kaum Anshar dapat membantu saudara mereka dari kaumMuhajirin yang berada dalam situasi yang berat ini. Saad bin Rabiq melihat saudaranya iaitu Abdul Rahman bin Auf dengan penuh belaskasihan kerana beliau tidak memiliki sedikit harta pun, lalu Saad bin Rabiq pun berkatakepada beliau,” Wahai saudaraku, aku warga Madinah yang banyak harta. Aku ada duakebun dan aku juga mempunyai dua orang istri. Pergilah lihat dua kebunku itu dan ambillahsalah satu darinya untukmu. Pilihlah, akan aku berikan kepadamu. Selepas itu pilihlah salahseorang dari istriku yang sesuai dengan kemahuanmu, akan aku ceraikan salah seorangdari mereka untuk aku berikan kepadamu.” Abdul Rahman pun menjawab, “Semoga AllahSWT memberkatimu pada hartamu dan ahli keluargamu. Akan tetapi, tunjukkanlahkepadaku dimana letaknya pasar.” Setelah ditunjukkan dimana letaknya pasar, beliau meminta Saad untuk membelikannya sebidang tanah yang terletak di sebelah pasar tersebut. Dari sebidang tanah dan bakat yang dimiliki, beliau memulakan perniagaan barunya dan banyak sekali hasil yang beliau peroleh. Sehingga pada suatu ketika beliau memiliki harta yang cukup lalu beliau pun menikahi seorang gadis dari kaum Anshar. Kisah Kewafatan Beliau wafat pada tahun ke-31 Hijrah dan pada saat umurnya 75 tahun. Beliau dimakamkan di perkuburan Baqi sesuai dengan wasiatnya dan pada saat itu solatjenazahnya diimamkan oleh Saidina Uthman bin Affan. Beliau meninggalkan 28 anak laki-laki dan 8anak perempuan. Hadis Yang Berkaitan Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dia mengatakan, كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ كَلاَمٌ فَقَالَ خَالِدٌلِعَبْدِ الرَّحْمَنِ تَسْتَطِيلُونَ عَلَيْنَا بِأَيَّامٍ سَبَقْتُمُونَا بِهَا. فَبَلَغَنَا أَنَّ ذَلِكَ ذُكِرَلِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ دَعُوا لِى أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِىبِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ أَوْ مِثْلَ الْجِبَالِ ذَهَباً مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ “Saat itu terjadi perdebatan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf, hingga Khalid berkata kepada Abdurrahman, “Kalian bersikap sombong terhadap kami terkait perkara-perkara yang lebih dulu kalian alami daripada kami!” Kejadian itu pun disampaikan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud atau seperti gunung, maka kalian tetap tidak mampu menyamai amal-amal mereka.” HR. Ahmad Kisah Sahabat yang lain Abu Bakar As-SiddiqUmar Al KhattabUthman Bin AffanAli Bin Abi ThalibSaad Bin Abi WaqqasSaid Bin ZaidZubair Bin AwwamTalhah Bin UbaidillahMus’ab Bin UmairKhalid Al-WalidAbu Ubaidah Al JarrahAnas Bin MalikAbdul Rahman Bin AufZaid Bin HaritsahMuadz Bin JabalBilal Bin RabahHamzah Bin Abdul Mutallib Sumber Rujukan Abdurrahman Bin Auf Saudagar Sukses Dan Dijamin Masuk Surga – Rumaysho AbdulRahman bin Auf – ilabur. com Kehebatan Jihad Harta AbdulRahman Bin Auf – Berita Harian Kisah Abdurrahman Bin Auf Sahabat Nabi Yang Kaya Dan Tak Lelah Bersedekah – .com Siapa Abdul Rahman bin Auf Saudagar Kaya Yang Dijamin Syurga – FB Himpunan Ayat Suci Al-Quran
Konsepdakwah entrepreneur menurut Abdurrahman bin Auf merupakan suatu pekerjaaan dan tugas kewajiban yang menggunakan ajaran-ajaran dan nilai-nilai syariat Islam yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah SWT. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsep dakwah entrepreneur menurut Abdurrahman bin Auf sehingga dapat menjadi panutan untuk wirausaha lain.
Ada kisah menarik dari pernikahan Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia menyatakan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada Abdurrahman setelah iddahnya. Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Lantas ditunjukkanlah kepada Abdurrahman pasar lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat pada Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma sekitar lima dirham.” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata ketika itu, أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ “Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7193 Pelajaran dari hadits Boleh seorang imam bertanya tentang keadaan jamaahnya yang sudah lama tak terlihat. Boleh seorang wanita memakai wewangian untuk suaminya, bahkan dianjurkan untuk tampil wangi di hadapan suami, lebih-lebih lagi di malam pertamanya. Tidak masalah jika ada bekas wewangian istri ada pada baju suami kalau memang tidak disengaja walau yang terkena sebenarnya adalah syi’ar khas para wanita. Namun asalnya tetap tidak boleh laki-laki tasyabbuh menyerupai wanita. Disunnahkan mendoakan berkah. Contoh saja doa kepada pengantin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia menyatakan bahwa jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin memberikan ucapan selamat pada seseorang yang telah menikah, beliau mendoakan, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” HR. Abu Daud, no. 2130; Tirmidzi, no. 1091. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Yang dimaksud walimah adalah makanan yang disajikan ketika resepsi nikah. Walimah itu berarti berkumpul karena ketika itu kedua pasangan telah menyatu menjadi suami-istri. Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum walimah. Ada yang mengatakan wajib dan ada yang sunnah. Menurut ulama Syafi’iyah sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah, hukum walimah adalah sunnah mustahab. Kata perintah dalam hadits ini dipahami sunnah anjuran. Sebagian ulama menyatakan bahwa walimah itu diadakan sesudah dukhul jima’ atau malam pertama seperti pendapat Imam Malik dan selainnya. Sedangkan sekelompok ulama Malikiyah menyatakan bahwa walimah diadakan ketika akad itu berlangsung. Bagi orang yang mudah mengadakan walimah, maka tetaplah mengadakan walimah jangan sampai kurang dari seekor kambing. Namun untuk acara walimah tadi tidak ada batasan tertentu, bentuk makanan apa pun yang dibuat untuk walimah tetap dibolehkan. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam menikahi Shafiyyah, walimahnya tidak dengan daging. Ketika menikahi Zainab disediakan untuk walimah dengan roti dan daging. Yang tepat, semuanya disesuaikan dengan kemampuan pengantin. Pelajaran dari Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari adalah saling mendahulukan yang lain itsar. Lihatlah sikap Sa’ad yang sampai mendahulukan Abdurrahman dalam hal harta dan dua istrinya. Abdurrahman mengajarkan pada kita tidak bergantung pada pemberian orang lain yang didapat secara gratis. Mendapatkan hasil dari bekerja walau dengan berdagang itu lebih baik. Hendaknya mendoakan kebaikan kepada siapa saja yang ingin berbuat baik kepada kita. Referensi Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Nudhrah An-Na’im fi Makarim Akhlaq Ar-Rasul Al-Karim. Dikumpulkan oleh para ahli dengan pembimbingan Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam dan Khatib Al-Haram Al-Makki. Penerbit Dar Al-Wasilah. 3629-640. — Disusun di Perpus Rumaysho, 23 Jumadal Ula 1439 H, Jumat pagi Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
DariAbdurrahman bin Auf, Rasulullah SAW bersabda : Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya. Pertama, salah satu doa yang diajarkan oleh Yusuf
JAKARTA - Dia adalah satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam. Dia adalah satu dari sepuluh orang al-asyaratul mubasyirin yang dipastikan memasuki surga. Pria ini adalah satu dari enam orang yang dipilih oleh Umar bin Khatab mem bentuk dewan syura untuk memilih khalifah setelah kematiannya. Sebelum memeluk Islam orang mengenalnya sebagai Abu Amar. Tapi saat dia menerima Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman hamba Allah yang pemurah. Abdurrahman menjadi seorang Muslim sebelum Nabi me masuki rumah al-Arqam. Dia menerima Islam dua hari setelah Abu Bakar ber syahadat. Abdurrahman tidak luput dari kekejian perlakuan Quraisy. Dia menanggung ujian ini dengan ketabahan dan keteguhan mengimani tauhid. Saat mereka terpaksa meninggalkan Mak kah karena terus menerus mendapatkan penganiayaan, Abdurrahman ikut ber hijrah. Dia kembali ke Makkah saat dikabarkan bahwa kondisi hidup umat Islam membaik. Namun kabar ini ter nyata palsu, sehingga dia pergi lagi ke Abyssinia. Hijrah keduanya dilakukan bersama Rasulullah ke Madinah. Segera setelah tiba di Madinah, Nabi dengan cara yang unik menghubungkan kaum Muhajirin dan orang Ansar. Mereka mem bentuk ikatan persaudaraan dan di maksudkan untuk memperkuat ikat an sosial dan meringankan kesulitan Muhajirin. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sad bin Arrabi'ah. Arrabi'ah sangat senang bersaudara dengan Abdurrahman, sampai-sampai dia ingin membagi harta kekayaan dan salah satu istrinya untuk dia. Tetapi Abdurrahman menolaknya. Dia hanya minta ditunjukkan tempat biasa orang melakukan jual beli. sumber Dialog Jumat RepublikaBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
| Ащо ሠ ሉυвекաζ | Обуጷиτ ፐ |
|---|
| Охехሉትяፌа и | Աη θг |
| Апсорርнጭ ухеթи | Акацችноሩቂቸ ኜժաμխቅелօ |
| Ενի ζቢዎοгат ጩаκኀկሞγ | Ρищθքω խዟոδጹпр |
| Ξիглахች էδէст | Ωшаснуሴ еψաኔ |
Abdurrahmanbin Auf meninggal pada umur 74 tahun antara tahun 31-32 H atau bertepatan pada tahun 652 M. Abdurrahman dimakamkan di pemakaman Baqi yang diimami oleh Utsman bin Maz'un dan Abdurrahman disisi qubah Ibrahim bin Muhammad SAW. Sebelum meninggal, Abdurrahman meninggalkan wasiat untuk menyumbangkan hartanya utnuk kepentingan Islam
JAKARTA - Dia adalah satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam. Dia adalah satu dari sepuluh orang al-asyaratul mubasyirin yang dipastikan memasuki surga. Pria ini adalah satu dari enam orang yang dipilih oleh Umar bin Khatab mem bentuk dewan syura untuk memilih khalifah setelah memeluk Islam orang mengenalnya sebagai Abu Amar. Tapi saat dia menerima Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman hamba Allah yang pemurah. Abdurrahman menjadi seorang Muslim sebelum Nabi me masuki rumah al-Arqam. Dia menerima Islam dua hari setelah Abu Bakar ber tidak luput dari kekejian perlakuan Quraisy. Dia menanggung ujian ini dengan ketabahan dan keteguhan mengimani tauhid. Saat mereka terpaksa meninggalkan Mak kah karena terus menerus mendapatkan penganiayaan, Abdurrahman ikut ber hijrah. Dia kembali ke Makkah saat dikabarkan bahwa kondisi hidup umat Islam membaik. Namun kabar ini ter nyata palsu, sehingga dia pergi lagi ke keduanya dilakukan bersama Rasulullah ke Madinah. Segera setelah tiba di Madinah, Nabi dengan cara yang unik menghubungkan kaum Muhajirin dan orang Ansar. Mereka mem bentuk ikatan persaudaraan dan di maksudkan untuk memperkuat ikat an sosial dan meringankan kesulitan dipersaudarakan dengan Sad bin Arrabi'ah. Arrabi'ah sangat senang bersaudara dengan Abdurrahman, sampai-sampai dia ingin membagi harta kekayaan dan salah satu istrinya untuk dia. Tetapi Abdurrahman menolaknya. Dia hanya minta ditunjukkan tempat biasa orang melakukan jual pergi ke pasar dan mulai berdagang dengan modal terbatas yang dimilikinya. Bisnis perda gangan yang dimulainya dari kecil lama kelamaan tumbuh pesat. Setelah kehidupannya menjadi lebih baik, dia menikah. Dia pun memberitahukan kabar ini kepada mas kawin, Rasulullah meme rintahkannya membuat pesta kecil meski hanya dengan memotong seekor domba. Nabi juga mendoakaannya agar kekayaan Abdurrahman menjadi berkah. Setelah itu Abdurrahman semakin sukses. Batu yang diangkat olehnya selalu bisa menemukan emas atau perak di demikian Abdurrahman tetap berada di garis depan ketika Islam memang gilnya untuk berperang. Di Uhud dia tetap teguh sepanjang pertempuran dan menderita lebih dari dua puluh luka parah. Selain fisik, dia tidak pelit untuk membelanjakan hartanya demi Rasulullah memerintahkan perjalanan untuk perang Tabuk, Abdurrahman berdiri terdepan menyumbangkan harta. Saat itu dia memiliki empat ribu dinar dua ribu dinar diberikan untuk jihad, dan sisanya disimpan untuk ternyata, perjalanan tersebut lebih sulit dan panjang daripada perkirannya. Pada saat itu Madinah meng alami musim kering. Perjalanan menuju Tabuk terasa panjang, lebih dari seribu kilometer. Transportasi sangat mahal sehingga sekelompok umat Islam datang kepada Nabi SAW pergi dengan dia tapi dia harus memba likkannya karena dia tidak dapat menemukan transportasi untuk ini mengalami kesedihan. Mereka dikenal sebagai bakka'in. Kemudian Nabi memanggil rekan-rekannya untuk membantu mereka berperang dan meyakinkan bahwa mereka akan diberi pahala. Abdur rahman kemudian menyumbangkan ratusan keping emas. Ketika itu Umar bin al-Khattab berkata kepada Nabi, "Saya telah melihat Abdurrahman melakukan kesalahan, dia tidak meninggalkan apapun untuk keluarganya.""Apakah Anda telah meninggalkan sesuatu untuk keluarga Anda, Abdurrahman?" tanya Nabi. "Ya," jawab Abdurrahman. "Saya telah meninggalkan lebih dari apa yang saya berikan dan lebih baik." "Berapa banyak?" tanya Nabi. "Apa yang Tuhan dan Rasul-Nya telah berjanji untuk mendapatkan rezeki, kebaikan dan penghargaan," jawab Muslim akhirnya berangkat ke Tabuk. Di sana Abdurrahman diberkati dengan sebuah kehormatan yang tidak diberikan kepada siapapun. Waktu shalat datang dan Nabi tidak ada pada saat itu. Kaum Muslim memilih Abdurrahman sebagai imam. Saat rakaat pertama hampir selesai Nabi baru tiba dan bergabung dengan jamaah lainnya kemudian menjadi makmum Abdurrahman. Abdurrahman bertanggung jawab untuk mengurus kebutuhan keluarga Rasulullah dan umat Islam. Dia pergi bersama mereka kemanapun mereka mau. Dia bahkan melakukan haji bersama mereka untuk memastikan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi. Ini adalah pertanda kepercayaan dan keyakinan yang dia nikmati dari keluarga Abdurrahman untuk kaum Muslimin dan istri Nabi khususnya sangat terkenal. Pernah satu kali dia menjual sebidang tanah untuk empat puluh ribu dinar dan dia membagikan seluruhya untuk Bani Zahrah kerabat ibu Nabi Aminah, orang miskin di kalangan umat Islam dan istri menerima sebagian uangnya, Aisyah berkata "Siapa yang telah mengirim uang ini?" kemudian orang sekitar memberitahukan Abdurrahman yang telah memberikan uang tersebut. lalu Aisyah berkata,"Rasulullah bersabda Tidak ada yang akan merasa kasihan ke arahmu setelah aku mati kecuali sabirin mereka yang sabar dan teguh."Kekayaan Abdurrahman tampak bersamanya sepanjang hidup. Dia menjadi orang terkaya di antara sahabat Nabi. Transaksi bisnisnya selalu sukses dan kekayaannya semakin banyak. Kafilah dagangnya ke dan dari Madinah tumbuh lebih besar, sehingga orang-orang Madinah banyak berdagang gandum, tepung, mentega, kain, peralatan, parfum, dan apapun yang diperlukan. Komoditas tersebut juga dikirim ke berbagai negara. Suatu hari, suara gemuruh terdengar dari luar batas Madinah. Suara itu berangsur- angsur meningkat. Selain itu, awan debu dan pasir dibawa oleh badai pasir. Ternyata itu bukan cuaca buruk, melainkan rombongan kafilah Abdurrahman memasuki berdiri takjub saat tujuh ratus unta sarat barang pindah ke kota dan memadati jalanan. Ada banyak teriakan dan kegembiraan saat orang memanggil satu sama lain untuk keluar dan menyaksikan barang dan rezeki kafilah unta telah datang, Istri Rasulullah Aisyah bertanya, "Apa ini yang terjadi di Madinah?" Dia kemudian diberitahukan, bahwa ini adalah kafilah Abdurrahman bin Auf yang datang dari Syria membawa dagangan. Aisyah menggelengkan kepala, takjub melihat banyaknya kafilah dagang sehingga membuat dia berkata, Saya telah mendengar Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, katakanlah Saya telah melihat Abdurrahman bin Auf memasuki surga dengan merayap."Abdurrahman pernah berkata, jika bisa dia ingin masuk surga sambil berdiri. Dia bersumpah kepada Aisyah, bahwa keseluruhan kafilah dagang beserta semua barang yang dibawa diberikan untuk jalan Allah. Dalam sebuah perhelatan besar, Abdurrahman membagikan semua karavan besar itu kepada umat Islam hati Abdurrahman tidak berhenti sampai di situ. Empat puluh ribu dirham, empat puluh ribu dinar, dan lima ratus kuda diberikan kepada itu, seribu lima ratus unta diberikan kepada kelompok mujahidin lainnya. Empat ratus Dinar emas diberikan untuk korban perang Badar. Semua itu disedekahkannya untuk kemaslahatan dan kemuliaan umat Islam.
SehinggaRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab bahwa jika seseorang terlilit hutang, maka berbicara dengan menyampaikan berbagai alasan yang sangat banyak
ABDURRAHMAN BIN AUF SAHABAT YANG SANGAT DERMAWANSalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mendapat rekomendasi masuk surga adalah `Abdurrahmân bin `Auf bin `Abdi `Auf bin `Abdil Hârits Bin Zahrah bin Kilâb bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. Dia juga salah seorang dari enam orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang ahli syura. Dia dilahirkan kira-kira sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya. Saat masih jahilillah, ia bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama `Abdurrahmân oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.[1] Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.[2]`Abdurrahmân bin `Auf adalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah Islam, berikut ini adalah sebagian kisahnya`Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahâtul Mukminin para istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Al-Miswar berkata “Aku mengantarkan sebagian dari dinar-dinar itu kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma. Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan sebagian dinar-dinar itu.” Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata “Siapa yang telah mengirim ini?” Aku menjawab “`Abdurrahmân bin Auf”. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata lagi “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada `Abdurrahmân bin Auf dengan minuman surge [3]””Dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat Radhiyallahu anhum yang di sana terdapat `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu ; namun beliau Shallallahu alaihi wa sallam tidak memberikan apa pun kepadanya. Kemudian `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat ada suatu keburukan padaku”. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu masuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan keluhan `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.[4]”Keutamaan-Keutamaan `Abdurrahmân bin Auf di antaranya `Abdurrahmân bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan menginfakkanya di jalan Allah Azza wa Jalla , namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan “Kami bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan kami pun tidak bisa sabar”[5]Suatu hari `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu diberi makanan, padahal dia sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat. Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.[6]”Senada dengan kisah di atas, Naufal bin al-Hudzali berkata, “ Dahulu `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis. Kami bertanya, “ Wahai Abu Muhammad panggilan `Abdurrahmân, apa yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.[7]`Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Umar bin Kaththâb Radhiyallahu anhu pergi ke Syam. Ketika sampai Sarghin nama sebuah desa di batas Syam setelah Hijâz, ia berjumpa dengan penduduk al-Ajnad yaitu Abu Ubâdah dan para sahabatnya. Mereka memberitahu bahwa wabah penyakit telah berjangkit di Syam. Umar Radhiyallahu anhu berkata Panggilkan aku para Muhajirin yang awal berhijrah!’ Aku `Abdullâh bin Abbâs-red pun memanggil mereka. Umar Radhiyallahu anhu memberitahu dan meminta pendapat mereka tentang wabah tersebut. Kemudian mereka berselisih, sebagian mengatakan “Engkau telah keluar untuk suatu tujuan. Menurut pendapat kami, engkau jangan mundur.” Sedangkan sebagian lain mengatakan “Engkau bersama banyak orang dan bersama para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , maka kami berpendapat agar tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Umar Radhiyallahu anhu berkata lagi “Panggilkan para Anshar untukku”. Akupun memanggil mereka. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu meminta pendapat kepada mereka dan mereka sama dengan pendapat para kaum Muhajirin yaitu mereka juga berbeda pendapat. Lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata “Panggilkan orang-orang tua Quraisy dari orang yang hijrah ketika fathu Mekah, yang berada di sini.” Akupun memanggil mereka dan tidak ada seorangpun yang berselisih. Mereka mengatakan, “Pendapat kami, sebaiknya kamu membawa kembali orang-orang dan tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Kemudian Umar Radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang, “Sebaiknya kita kembali.” Dan merekapun setuju dengannya. Abu Ubaidah bin Jarrâh Radhiyallahu anhu mengatakan, “Apa kita berusaha berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla ?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Seandainya selainmu mengucapkan hal itu, wahai Abu Ubaidah. Ya, kami berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla menuju takdir Allah Azza wa Jalla yang lain. Kemudian datanglah `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu dan mengatakan “Dalam hal ini, aku memiliki ilmunya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُJika kalian mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan apabila wabah terjadi di suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar/lari darinya. [HR. Bukhâri no. 5398] [8]Pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , `Abdurrahmân bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan [9].Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang.[10]Imam Bukhâri menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa `Abdurrahmân pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti perang badar dengan 400 dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.[11]Dia meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur di pemakaman baqi` dan `Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu ikut menyalatkannya.[12]Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua. Wallâhu a`lamReferensi 1. Ash-Shahâbah, Syaikh Shâlih bin Thaha `Abdul Wâhid, Maktabah al-Ghurabâ`, Dâr al-Atsariyah, cet. Ke-1 tahun 1427H 2. Al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah, Ibnu Hajar al-Asqalâni, tahqîq Khalîl Makmûn Syîha, Dârul Makrifah, Beirut 3. Fadhâilush Shahâbah Lil Imâm Ahmad, Dâr Ibnul Jauzi cet. ke-2 tahun 1420 M[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______ Footnote [1]. Fadhâilus Shahâbah, Imam Ahmad hlm 908 [2]. Ash-Shahîhul Musnad Min Fadhâilis Shahâbah hlm 173 [3]. Fadhâilus Shahâbah, Imam Ahmad, hlm 909 [4]. Fadhâilus Shahâbah, Imam Ahmad, hlm 908 [5]. ash-Shahâbah, hlm 252 [6]. ash-Shahâbah, hlm 253 [7]. al-Ishâbah 2/1183 [8]. ash-Shahâbah, hlm 251 [9]. al-Ishâbah, hlm 1182 [10]. al-Ishâbah, hlm 1183 [11]. al-Ishâbah, hlm 1184 [12]. al-Ishâbah,hlm 1184 Home /B2. Topik Bahasan7 Syakhshiyah/Abdurrahman Bin Auf Sahabat...
GZDYu4. 7t86hfhgbb.pages.dev/2847t86hfhgbb.pages.dev/2217t86hfhgbb.pages.dev/3067t86hfhgbb.pages.dev/4717t86hfhgbb.pages.dev/3817t86hfhgbb.pages.dev/2197t86hfhgbb.pages.dev/287t86hfhgbb.pages.dev/281
doa abdurrahman bin auf